Di tengah riuhnya kegiatan Kemah Literasi Madani (KLM) di desa Oloboju, Kabupaten Sigi, terselip sebuah upacara sakral: pelantikan calon Penegak Laksana Gudep SMAN Madani pada 25 – 27 Oktober 2024.
Di hari kedua KLM, saat jam menunjukkan tengah malam, pelantikan digelar—sederhana dan hening, berbeda dari biasanya. Agar tak mengganggu jadwal KML, prosesi ini dibuat lebih ringkas, mengurangi adat Ambalan: tak ada air kembang, dan tongkat sederhana menggantikan bambu runcing sebagai simbol.
Aris Arianto, selaku pembina gudep mewakili Ketua Majelis Pembimbing Gudep SMAN Madani melantik 14 anggota pramuka yang akan mengemban gelar Penegak Laksana.
Momen ini begitu khidmat, seperti alunan doa di malam yang sunyi, terutama saat janji Tri Satya diulang dengan sepenuh hati oleh semua peserta.
“Selamat datang di babak baru petualangan kalian, Penegak Laksana! Kalian bagai pelaut muda yang bersiap mengarungi lautan luas. Badai akan datang, ombak akan menerpa, namun ingatlah kompasmu: Tri Satya dan Dasa Dharma,” pesan Aris saat memberi sambutan pelantikan.
Aris menambah bahwa, dengan berpegang teguh pada kompas tsb, setiap anggota pramuka penegak laksana akan selalu menemukan jalan yg benar. Jalan yg akan membawa mereka dari satu pelabuhan ke pelabuhan berikutnya.